kekurangan motor Yamaha M1 V4
Home / Berita Otomotif / Quartararo Bongkar Kekurangan Motor Yamaha M1 V4, Bikin Kaget!

Quartararo Bongkar Kekurangan Motor Yamaha M1 V4, Bikin Kaget!

Pembahasan soal kekurangan motor Yamaha M1 V4 kembali jadi sorotan setelah Fabio Quartararo dengan blak blakan mengungkap apa yang ia rasakan di lintasan. Motor baru yang digadang gadang sebagai titik balik proyek Yamaha di MotoGP ini ternyata masih menyimpan sejumlah masalah mendasar. Dari sektor akselerasi, grip ban belakang, hingga perilaku motor di tikungan, semua jadi bahan evaluasi serius. Pengakuan Quartararo membuat publik kaget, karena ekspektasi terhadap M1 V4 sangat tinggi setelah Yamaha beralih dari konfigurasi inline four yang legendaris.

Harapan Tinggi pada Proyek Besar Yamaha M1 V4

Peralihan ke mesin V4 adalah langkah paling radikal Yamaha dalam dua dekade terakhir di MotoGP. Selama ini, M1 dengan mesin inline four dikenal punya keunggulan di tikungan, halus, dan bersahabat dengan ban. Namun di era MotoGP modern, kekurangan tenaga dan kecepatan puncak membuat Yamaha tertinggal jauh dari Ducati, KTM, dan Aprilia yang sudah lama memakai konfigurasi V4.

Yamaha akhirnya memilih jalan baru dengan melahirkan M1 V4, sebuah proyek yang melibatkan nama nama besar seperti mantan insinyur Ducati, Max Bartolini, dan dukungan teknis intensif dari Jepang serta Eropa. Targetnya jelas, mengejar tenaga, top speed, dan akselerasi tanpa kehilangan karakter lembut yang selama ini jadi ciri khas Yamaha.

Namun transisi teknologi ini tidak semudah mengganti mesin dan sasis. Quartararo mengakui bahwa adaptasi ke karakter V4 butuh waktu, dan di situlah mulai terlihat kekurangan motor Yamaha M1 V4 yang tidak muncul dari luar, tetapi terasa jelas saat digeber di batas maksimal.

“Secara teori motor ini harusnya jauh lebih kompetitif, tapi di atas lintasan, ada momen momen ketika saya merasa seperti masih membawa motor lama yang kekurangan beberapa hal penting untuk bertarung di depan.”

6 Tips Pengendara Pemula Mobil Matik Anti Grogi di Jalan

Kekurangan Motor Yamaha M1 V4 di Sektor Akselerasi dan Traksi

Bagi pembalap MotoGP, akselerasi keluar tikungan adalah senjata utama untuk menyalip dan mempertahankan posisi. Di area ini, kekurangan motor Yamaha M1 V4 menjadi sorotan paling tajam. Quartararo menilai, meski tenaga mesin sudah meningkat, cara motor menyalurkan tenaga ke aspal belum seefektif rival.

Di beberapa sirkuit dengan stop and go yang kuat, seperti Red Bull Ring atau Motegi, kelemahan ini terasa semakin jelas. Motor cenderung kehilangan traksi saat pembalap membuka gas terlalu agresif. Sistem elektronik seperti traction control dan anti wheelie belum bekerja sehalus Ducati atau KTM, sehingga pembalap harus banyak mengompensasi dengan gaya balap.

Kekurangan Motor Yamaha M1 V4 Saat Keluar Tikungan

Saat fase keluar tikungan, kekurangan motor Yamaha M1 V4 terlihat pada dua aspek utama. Pertama, respon gas yang belum konsisten. Ada momen ketika tenaga terasa datang terlalu tiba tiba, membuat ban belakang mudah spin. Kedua, grip mekanis dari kombinasi sasis dan swingarm belum sepenuhnya menyatu dengan karakter mesin V4.

Quartararo beberapa kali mengeluhkan bahwa ia harus mengubah cara membuka gas, lebih lembut dan bertahap, agar ban tidak cepat habis. Ini bertolak belakang dengan rival yang bisa lebih agresif tanpa banyak kehilangan traksi. Kondisi ini tidak hanya mengurangi kecepatan keluar tikungan, tetapi juga mempengaruhi strategi balap sepanjang race.

“Dengan motor sekarang, saya harus lebih banyak mengelola grip daripada fokus menyerang. Di MotoGP modern, kalau kamu sibuk menyelamatkan ban dan traksi, kamu sudah kalah satu langkah dari lawan.”

Cara Aman Lewat Rel Kereta Api Pakai Motor Matik, Wajib Tahu!

Perilaku Motor di Tikungan, Kekuatan Lama yang Belum Kembali

Salah satu identitas Yamaha selama bertahun tahun adalah keunggulan di tikungan. Motor M1 terkenal stabil, mudah dikendalikan, dan sangat kuat di mid corner. Pembalap bisa membawa kecepatan tinggi di tikungan tanpa banyak perlawanan dari motor. Namun dengan hadirnya konfigurasi V4, karakter ini belum sepenuhnya kembali.

Quartararo menilai, kekurangan motor Yamaha M1 V4 di area ini bukan hanya soal mesin, tetapi kombinasi sasis, geometri, dan distribusi bobot. Motor terasa lebih kaku, terutama saat masuk dan berpindah arah di tikungan cepat. Pembalap perlu lebih banyak tenaga fisik untuk memaksa motor berbelok sesuai keinginan.

Kekurangan Motor Yamaha M1 V4 dalam Hal Stabilitas Pengereman

Sektor pengereman menjadi salah satu titik krusial di MotoGP, karena di situlah banyak terjadi manuver overtake. Yamaha sebelumnya bukan yang terbaik dalam hal late braking, tetapi cukup stabil dan mudah diprediksi. Di versi V4, Quartararo menyoroti bahwa motor masih punya kelemahan saat fase akhir pengereman.

Ketika pembalap menekan rem keras dan mulai memiringkan motor, bagian belakang kadang terasa tidak stabil. Ini membuat Quartararo sulit mengambil risiko ekstra seperti yang dilakukan pembalap Ducati atau KTM yang terkenal agresif di titik pengereman. Kurangnya rasa percaya diri ini berdampak langsung pada kemampuan bertarung wheel to wheel.

Kekurangan Motor Yamaha M1 V4 Saat Hard Braking

Pada hard braking, kekurangan motor Yamaha M1 V4 muncul dalam bentuk getaran kecil dan pergerakan yang tidak sepenuhnya “tenang” di bagian depan. Meski tidak sampai berbahaya, hal ini membuat pembalap harus sedikit menahan diri dan mengerem sedikit lebih awal dibanding rival.

Wajib Tahu, Cairan Berbahaya untuk Mobil yang Sering Diremehkan

Di level MotoGP, perbedaan beberapa meter di titik pengereman sudah cukup membuat pembalap kesulitan menyalip. Quartararo berulang kali menegaskan bahwa ia butuh motor yang memberinya rasa aman penuh saat menekan rem, agar bisa memaksa batas lebih jauh.

Di sisi teknis, Yamaha masih mencari kombinasi terbaik antara fork, setting rem, dan geometri depan agar M1 V4 bisa lebih jinak saat hard braking. Namun selama proses ini berjalan, kekurangan tersebut tetap menjadi beban di setiap akhir pekan balap.

Perbandingan Langsung dengan Ducati dan KTM di Trek Lurus

Salah satu alasan utama Yamaha beralih ke V4 adalah untuk mengejar kecepatan puncak. Di data top speed, memang ada peningkatan signifikan dibanding M1 generasi inline four. Namun ketika dibandingkan langsung dengan Ducati dan KTM, kekurangan motor Yamaha M1 V4 masih terlihat jelas, terutama saat slipstream dan akhir trek lurus.

Quartararo beberapa kali tertangkap kamera kehilangan posisi di akhir straight, meski sudah berusaha memanfaatkan slipstream sebaik mungkin. Motor Yamaha masih kalah dalam hal kombinasi power, aerodinamika, dan efisiensi penyaluran tenaga. Ini membuat M1 V4 sulit bertahan saat head to head di lintasan lurus panjang.

“Sekarang kami memang lebih cepat dari Yamaha beberapa tahun lalu, tapi masalahnya, rival juga terus berkembang. Jadi jarak yang kami tutup di atas kertas, di lintasan masih terasa jauh.”

Kekurangan Motor Yamaha M1 V4 di Area Aerodinamika

MotoGP modern tidak lagi hanya soal mesin dan sasis, tetapi juga aerodinamika. Di sinilah Yamaha masih mencari bentuk terbaik. Fairing dan winglet M1 V4 belum seefektif Ducati yang sudah menguasai aero package selama bertahun tahun.

Kekurangan motor Yamaha M1 V4 di sektor aero terlihat pada dua hal. Pertama, downforce yang belum optimal saat akselerasi, sehingga ban depan kadang masih mudah terangkat dan memaksa elektronik bekerja ekstra. Kedua, drag yang belum sepenuhnya efisien, membuat kecepatan puncak tidak maksimal meski tenaga mesin sudah meningkat.

Yamaha harus menyeimbangkan antara stabilitas, anti wheelie, dan kecepatan puncak. Sementara mereka masih dalam fase eksperimen, tim lain sudah berada di level penyempurnaan. Kesenjangan pengalaman inilah yang membuat pengembangan aero Yamaha tampak tertinggal satu langkah.

Tantangan Adaptasi Quartararo dengan Karakter M1 V4

Di luar faktor teknis, ada aspek manusia yang tidak bisa diabaikan. Quartararo tumbuh dan sukses dengan karakter motor inline four yang halus dan lincah. Beralih ke V4 berarti mengubah banyak kebiasaan, mulai dari cara masuk tikungan, mengelola throttle, hingga memilih racing line.

Kekurangan motor Yamaha M1 V4 yang ia rasakan sebagian juga muncul karena ia masih dalam fase mencari batas motor. Gaya balap yang sebelumnya mengandalkan kecepatan di tikungan harus diubah menjadi lebih stop and go, mirip pembalap Ducati. Proses ini tidak bisa instan, bahkan untuk juara dunia sekalipun.

Quartararo beberapa kali menyebut bahwa ia harus “belajar ulang” cara mengendarai motor MotoGP. Ia menghabiskan banyak waktu di sesi latihan untuk mencoba berbagai pendekatan masuk dan keluar tikungan, menguji titik pengereman baru, dan menyesuaikan posisi tubuh di atas motor.

“Di beberapa lap, saya merasa seperti rookie lagi. Motor ini meminta saya mengubah banyak hal, dan setiap kali saya coba lebih agresif, saya menemukan batas baru yang belum tentu nyaman.”

Proyek Panjang Yamaha dan Batas Sabar Pembalap

Pengembangan motor MotoGP bukan pekerjaan satu musim. Yamaha sendiri sudah mengakui bahwa M1 V4 adalah proyek multi tahun. Namun di sisi lain, pembalap seperti Quartararo beroperasi dalam jendela karier yang terbatas. Mereka butuh motor kompetitif sekarang, bukan hanya janji peningkatan di musim berikutnya.

Kekurangan motor Yamaha M1 V4 yang masih tampak di berbagai aspek membuat tekanan terhadap manajemen dan departemen teknis semakin besar. Publik dan penggemar mulai mempertanyakan apakah langkah ke V4 sudah diiringi persiapan yang cukup matang, atau justru terlambat dan terburu buru.

Di paddock, suara suara bahwa Yamaha harus bergerak lebih agresif dalam hal rekrutmen insinyur Eropa, kolaborasi dengan supplier, hingga pendekatan pengembangan juga semakin nyaring. Sementara itu, Quartararo berada di tengah pusaran, menjadi wajah proyek sekaligus pihak yang paling merasakan konsekuensi di lintasan.

“Motor ini punya potensi, tapi potensi tidak memberi poin di klasemen. Yang kami butuhkan adalah paket yang bisa menang setiap akhir pekan, bukan hanya motor yang terlihat menjanjikan di data.”

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *