Volkswagen
Home / Berita Otomotif / Volkswagen Terdesak Mobil China dan Tarif, Restrukturisasi Besar Disiapkan

Volkswagen Terdesak Mobil China dan Tarif, Restrukturisasi Besar Disiapkan

Volkswagen Terdesak Mobil China dan Tarif, Restrukturisasi Besar Disiapkan Volkswagen sedang berada di salah satu fase paling berat dalam sejarah panjangnya. Raksasa otomotif Jerman itu disebut menyiapkan restrukturisasi besar setelah dihantam tekanan berlapis, mulai dari agresivitas produsen mobil China, tarif impor Amerika Serikat, permintaan Eropa yang belum kuat, sampai biaya produksi yang tetap tinggi di Jerman. Perusahaan yang lama menjadi simbol kekuatan industri otomotif Eropa kini harus bergerak cepat agar tidak makin tertinggal dalam persaingan kendaraan listrik dan mobil berbiaya lebih efisien.

Volkswagen Disebut Kaji Penutupan Pabrik di Jerman

Rencana restrukturisasi Volkswagen mencuat setelah Reuters melaporkan bahwa perusahaan mempertimbangkan penutupan empat pabrik di Jerman dan pemangkasan karyawan hingga 100.000 orang. Dua sumber yang mengetahui pembahasan itu menyebut rencana tersebut dibawa ke dewan pengawas dan dijadwalkan dibahas dalam rapat pada 9 Juli 2026. Bila terealisasi, langkah itu akan menjadi salah satu perombakan terbesar dalam sejarah industri otomotif global.

Pabrik yang disebut masuk pembahasan berada di Hanover, Zwickau, Emden, dan Neckarsulm milik Audi. Penutupan fasilitas tersebut dapat menempatkan lebih dari 45.000 pekerjaan dalam risiko, di luar 50.000 pemangkasan yang sebelumnya sudah direncanakan. Reuters mencatat, skala pemangkasan hingga 100.000 orang akan sebanding dengan perubahan besar General Motors menjelang kebangkrutan 2009 dan pemangkasan besar pada awal 1990 an.

Tekanan ini tidak datang dari satu arah. Volkswagen menghadapi mobil China yang makin kuat, tarif impor di Amerika Serikat, dan permintaan Eropa yang melemah. Perusahaan sendiri disebut menilai model bisnis lamanya tidak lagi cukup menghasilkan imbal hasil yang dibutuhkan dalam lingkungan industri yang berubah cepat.

Pemangkasan Karyawan Sudah Berjalan

Sebelum kabar rencana yang lebih besar muncul, Volkswagen telah menjalankan program pengurangan tenaga kerja dan efisiensi biaya di Jerman. CEO Volkswagen Oliver Blume disebut akan menyampaikan kepada investor bahwa perusahaan menargetkan pengurangan tenaga kerja 19.000 orang sampai akhir 2026. Lebih dari 28.000 pemangkasan juga sudah disepakati sebagai target mengikat sampai 2030.

Modifikasi Mobil Pick Up yang Keren Tanpa Mengorbankan Fungsi Angkut

Blume menyatakan biaya pabrik di situs Volkswagen Jerman sudah dikurangi lebih dari 20 persen pada 2025. Angka itu menunjukkan bahwa program efisiensi bukan lagi wacana, melainkan sudah berjalan di lantai produksi. Namun, tekanan pasar membuat langkah yang sudah ditempuh belum dianggap cukup.

Dalam laporan kuartal pertama 2026, manajemen menyebut rencana pemangkasan biaya saat ini, termasuk 50.000 pengurangan pekerjaan di Jerman sampai 2030, belum memadai untuk mengamankan posisi Volkswagen. Pada periode yang sama, laba operasi grup turun 14 persen menjadi 2,5 miliar euro, sementara pendapatan turun 2,5 persen menjadi 75,7 miliar euro.

“Volkswagen bukan hanya memangkas biaya. Perusahaan sedang dipaksa mengubah cara bekerja, cara membuat produk, dan cara membaca pasar yang kini bergerak jauh lebih cepat.”

China Berubah dari Ladang Untung Menjadi Arena Berat

China selama bertahun tahun menjadi mesin keuntungan penting bagi Volkswagen. Merek ini pernah begitu kuat di pasar mobil terbesar dunia tersebut. Namun, posisi itu berubah cepat ketika produsen lokal seperti BYD, Geely, Chery, SAIC, Leapmotor, dan Xiaomi bergerak agresif di kendaraan listrik, mobil hybrid, perangkat lunak, serta harga yang lebih tajam.

Reuters mencatat keuntungan Volkswagen di China turun lebih dari 80 persen dalam satu dekade terakhir. Perusahaan yang dulu menjadi pemain terbesar di China kini tergeser ke posisi ketiga setelah produsen lokal mengambil pangsa pasar dengan teknologi lebih segar dan harga lebih kompetitif.

Kelebihan Gardan Depan pada Mobil, Komponen Penting yang Bikin Traksi Lebih Mantap

Tekanan itu terlihat jelas dalam pengiriman kendaraan. Pada kuartal pertama 2026, pengiriman global Volkswagen turun 4 persen. China turun 15 persen, sementara Amerika Serikat turun 20,5 persen. Porsche dan Audi juga ikut terkena tekanan di China, masing masing turun 21 persen dan 12 persen pada periode tersebut.

Target China Dipangkas

Volkswagen kini harus menurunkan harapannya di China. Ralf Brandstaetter, eksekutif tertinggi Volkswagen di China, dilaporkan menyebut target penjualan tahunan 2030 diturunkan menjadi hingga 3,2 juta kendaraan, dari target lama 4 juta unit. Target margin operasi di China juga dipangkas menjadi 4 persen sampai 6 persen, jauh dari harapan dua digit sebelumnya.

Perusahaan juga telah mengurangi kapasitas produksi di China sebesar 1,5 juta unit sejak 2023. Beberapa pabrik dijual, ditutup, atau dialihkan fungsinya, termasuk fasilitas di Nanjing, Urumqi, dan Anting. Jumlah tenaga kerja juga turun dari sekitar 90.000 menjadi 70.000 orang.

Strategi Volkswagen di China kini bergerak ke arah produk yang lebih lokal. Perusahaan menggandeng mitra lokal dan menyiapkan mobil listrik yang dirancang lebih dekat dengan selera konsumen China. Langkah ini menjadi pengakuan bahwa pendekatan global lama tidak lagi otomatis berhasil di pasar yang sudah dikuasai produsen lokal dengan ritme produk jauh lebih cepat.

Mobil China Menyerang Eropa

Tekanan dari produsen China tidak berhenti di China. Merek merek China kini masuk lebih kuat ke Eropa, pasar yang selama puluhan tahun menjadi halaman utama produsen Jerman, Prancis, Italia, dan Amerika. Reuters mencatat produsen mobil China memperluas kehadiran di Eropa dengan mengandalkan harga kompetitif dan teknologi kendaraan listrik yang makin matang.

Jeep Wrangler Rubicon Aksesori Sombong Habiskan Rp1,3 M

BYD menjadi salah satu contoh paling menonjol. Data Asosiasi Produsen Mobil Eropa yang dikutip Reuters menunjukkan BYD menyumbang 2,2 persen registrasi mobil baru di Uni Eropa, Inggris, dan EFTA pada Januari sampai April 2026. Perusahaan itu juga menargetkan semua kendaraan listriknya untuk Eropa dapat diproduksi secara lokal pada 2028.

Pada Juli 2026, penasihat BYD untuk Eropa, Alfredo Altavilla, menyebut perusahaan sudah dekat dengan keputusan mengambil alih pabrik otomotif yang sudah ada di Eropa. Spanyol dan Prancis disebut sebagai kandidat, sementara pabrik Jerman dipandang kurang kompetitif karena masalah biaya dan utilisasi.

Tarif Amerika Serikat Menambah Beban

Selain tekanan China, tarif impor Amerika Serikat menjadi pukulan berat bagi Volkswagen. Dalam laporan kuartal pertama 2026, Reuters menyebut tarif impor AS diperkirakan menelan biaya sekitar 4 miliar euro bagi Volkswagen tahun ini. Laba perusahaan juga terpukul oleh penurunan nilai terkait keputusan menghentikan produksi SUV listrik ID.4 di Tennessee karena permintaan kendaraan listrik yang lemah di wilayah tersebut.

Pada laporan tahunan 2025, Volkswagen mencatat laba operasi turun lebih dari separuh menjadi 8,9 miliar euro, dari 19,1 miliar euro pada 2024. Pendapatan relatif datar di 321,9 miliar euro, tetapi margin operasi hanya 2,8 persen. Perusahaan menyebut 2026 tetap berat karena tarif, persaingan China, dan penataan ulang bisnis premium seperti Porsche.

CEO Oliver Blume mengakui model bisnis yang selama puluhan tahun menopang Volkswagen tidak lagi bekerja dalam bentuk lama. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa restrukturisasi bukan hanya soal mengurangi orang dan pabrik, tetapi juga mengganti cara perusahaan menciptakan laba di pasar yang lebih keras.

Tarif Eropa untuk Mobil Listrik China Tidak Selalu Menguntungkan

Uni Eropa menerapkan bea tambahan terhadap mobil listrik buatan China sejak 2024. Tujuannya adalah melindungi produsen Eropa dari tuduhan subsidi yang dianggap memberi keuntungan bagi pabrikan China. Namun, tarif ini juga memberi masalah bagi Volkswagen karena beberapa produknya dibuat di China lalu dijual ke Eropa.

Kasus Cupra Tavascan menjadi contoh. SUV listrik buatan China milik merek Cupra, bagian dari Volkswagen, sebelumnya terkena tarif tambahan 20,7 persen di atas bea standar 10 persen. Reuters mencatat tarif tersebut hampir menghapus laba operasi divisi SEAT dan Cupra dalam sembilan bulan pertama tahun lalu.

Pada Februari 2026, Komisi Eropa menyetujui pengecualian tarif untuk Cupra Tavascan dengan syarat harga minimum dan kuota tahunan. Ini menjadi pengecualian pertama sejak tarif terhadap kendaraan listrik berbasis China diterapkan. Kesepakatan itu juga membuka jalan bagi produsen lain, termasuk merek China, untuk mengajukan skema serupa.

Eropa Lesu, Pabrik Kurang Terpakai

Eropa seharusnya menjadi benteng alami Volkswagen. Namun permintaan kendaraan di kawasan itu belum kembali ke level sebelum pandemi, sementara biaya tenaga kerja dan energi tetap tinggi. Reuters mencatat margin grup Volkswagen lebih dari separuh turun antara 2021 dan 2025 karena persaingan, biaya buruh dan energi, permintaan Eropa yang lemah, serta hambatan perdagangan.

Pabrik yang kurang terpakai menjadi masalah besar. Fasilitas produksi mobil membutuhkan volume tinggi agar biaya per unit tetap terkendali. Bila permintaan turun, pabrik tetap menanggung biaya tetap seperti tenaga kerja, energi, pemeliharaan, dan logistik. Akibatnya, margin menipis bahkan ketika perusahaan masih menjual jutaan kendaraan.

Volkswagen juga memiliki struktur perusahaan yang sangat kompleks. Grup ini menaungi banyak merek, mulai dari Volkswagen, Audi, Porsche, Skoda, SEAT, Cupra, Bentley, Lamborghini, sampai kendaraan niaga. Reuters menggambarkan struktur Volkswagen sebagai konglomerasi tradisional dengan jaringan divisi, perusahaan patungan, dan investasi yang rumit.

Restrukturisasi Bisa Menyentuh Struktur Grup

Rencana yang dilaporkan tidak hanya berhenti pada pemangkasan kerja. Reuters mengutip Manager Magazin yang menyebut Blume dan CFO Arno Antlitz ingin merombak Volkswagen secara mendasar, termasuk kemungkinan memisahkan merek inti Volkswagen dan bisnis suku cadang ke entitas berbeda. Rencana investasi lima tahun juga disebut dapat dipangkas sekitar 15 persen menjadi sedikit di atas 130 miliar euro.

Jika langkah semacam ini berjalan, Volkswagen akan masuk babak yang lebih besar daripada efisiensi operasional biasa. Pemisahan entitas dapat membuat struktur keuangan lebih jelas, memudahkan investor membaca kinerja tiap unit, dan memberi tekanan agar setiap bagian bisnis bekerja lebih ramping.

Namun, jalan menuju sana tidak mudah. Volkswagen memiliki serikat pekerja kuat, struktur kepemilikan unik, keluarga Porsche dan Piech yang menguasai hak suara besar, serta negara bagian Lower Saxony sebagai pemegang saham penting. Setiap rencana pemangkasan besar hampir pasti menghadapi perlawanan politik dan sosial.

Serikat Pekerja dan Politik Jerman Akan Menentukan Arah

Di Jerman, Volkswagen bukan hanya perusahaan. Ia adalah bagian dari identitas industri nasional. Kota Wolfsburg tumbuh bersama Volkswagen. Banyak keluarga bergantung pada pabrik, pemasok, diler, logistik, dan jaringan pekerjaan yang terhubung dengan grup tersebut. Karena itu, penutupan pabrik tidak bisa diperlakukan sebagai keputusan korporasi biasa.

Serikat pekerja Jerman memiliki kekuatan besar dalam tata kelola Volkswagen. Lower Saxony sebagai pemegang saham terbesar kedua juga memiliki kepentingan menjaga pekerjaan dan stabilitas kawasan. Reuters mencatat rencana Blume untuk menekan biaya diperkirakan akan menghadapi resistensi keras dari serikat pekerja dan negara bagian tersebut.

Inilah salah satu kesulitan Volkswagen. Perusahaan harus menurunkan biaya agar bisa bersaing dengan produsen China, tetapi basis industrinya berada di negara dengan standar upah tinggi dan perlindungan tenaga kerja kuat. Mobil China datang dengan struktur biaya lebih ringan, rantai pasok baterai yang kuat, dan proses pengembangan produk lebih cepat.

“Persoalan Volkswagen bukan sekadar siapa yang membuat mobil lebih murah. Ini soal siapa yang mampu membangun mobil menarik, mempercepat perangkat lunak, menjaga biaya, dan tetap mempertahankan pekerja.”

Mencari Jalan Lewat Model China untuk Eropa

Salah satu opsi yang sedang dikaji Volkswagen adalah membawa model yang dikembangkan untuk China ke Eropa. Blume mengatakan perusahaan dapat mulai membangun model khusus China di Eropa untuk pasar lokal, atau berbagi pabrik di benua itu dengan mitra China. Langkah ini muncul ketika Volkswagen meninjau pabrik yang kurang terpakai, kerumitan produk, dan portofolio bisnis yang terlalu luas.

Opsi ini menarik, tetapi juga berisiko. Di satu sisi, mobil yang dikembangkan bersama mitra China bisa lebih cepat, lebih digital, dan lebih kompetitif dari sisi harga. Di sisi lain, membuka lebih banyak ruang bagi teknologi dan model China di Eropa dapat memperkuat posisi kompetitor yang justru sedang menekan Volkswagen.

Analis Deka, Ingo Speich, menilai biaya tinggi hanya gejala, bukan akar masalah. Menurutnya, Volkswagen harus membawa produk yang menarik dan benar benar dicari pasar agar perdebatan soal biaya dapat selesai. Pernyataan itu menegaskan bahwa pemangkasan tidak akan cukup bila produk tidak memikat pembeli.

Porsche dan Audi Ikut Membebani

Tekanan Volkswagen makin berat karena merek premium yang biasanya menjadi sumber laba besar juga sedang melemah. Reuters mencatat Porsche menjadi salah satu pihak yang paling terpukul. Margin Porsche jatuh menjadi 1,1 persen tahun lalu dari 18 persen pada tahun pencatatan sahamnya.

Porsche sempat menjadi penopang penting karena harga jual dan margin tinggi. Namun, permintaan mobil premium melemah di beberapa pasar, termasuk China. Perubahan strategi elektrifikasi Porsche juga membuat Volkswagen menanggung biaya besar. Dalam laporan 2025, laba operasi grup turun tajam salah satunya karena penyesuaian strategi Porsche yang menghentikan sementara transisi penuh ke listrik di tengah permintaan lemah.

Audi juga tidak kebal. Penjualan Audi di China turun 12 persen pada kuartal pertama 2026, memperlihatkan bahwa tekanan dari produsen lokal tidak hanya menghantam mobil massal, tetapi juga segmen premium.

Pasar Saham Kehilangan Kepercayaan

Investor ikut memberi sinyal keras. Reuters mencatat saham Volkswagen diperdagangkan di level terendah sejak Juli 2010. Bahkan nilainya berada di bawah level satu dekade lalu saat krisis Dieselgate, yang selama ini dianggap sebagai krisis korporasi terbesar Volkswagen.

Harga saham yang tertekan menunjukkan pasar belum yakin restrukturisasi akan langsung memperbaiki keadaan. Investor ingin melihat bukan hanya penghematan, tetapi juga bukti bahwa Volkswagen mampu merilis produk yang diminati konsumen, mempercepat kendaraan listrik, membangun perangkat lunak yang kuat, dan memulihkan posisi di China.

Di sisi lain, restrukturisasi besar pun membawa risiko. Bila pemangkasan terlalu dalam, Volkswagen dapat kehilangan kemampuan produksi, pengetahuan teknis, dan kepercayaan pekerja. Bila terlalu lambat, biaya tetap tinggi dan pesaing China makin jauh meninggalkan.

Arti Bagi Industri Otomotif Dunia

Rencana Volkswagen menjadi alarm bagi industri otomotif dunia. Jika raksasa seperti Volkswagen harus mempertimbangkan penutupan pabrik dan pemangkasan besar, pabrikan lain di Eropa juga tidak bisa merasa aman. Transisi ke kendaraan listrik, tarif dagang, dan agresivitas produsen China mengubah struktur persaingan secara luas.

BYD bahkan menyebut rencana pemangkasan Volkswagen sebagai panggilan bangun bagi industri otomotif Eropa. Perusahaan China itu mencatat penjualannya di Eropa melonjak 270 persen tahun lalu menjadi hampir 188.000 kendaraan dan lebih dari dua kali lipat dalam lima bulan pertama 2026 menjadi di atas 100.000 unit.

Volkswagen kini berada di persimpangan berat. Perusahaan harus menjaga warisan manufaktur Jerman, menghadapi produsen China yang bergerak cepat, menanggung tarif impor, serta mencari model bisnis yang lebih ramping. Pembahasan 9 Juli 2026 akan menjadi salah satu titik penting untuk melihat seberapa jauh perusahaan berani mengubah dirinya, terutama saat pasar mobil global tidak lagi memberi ruang nyaman bagi pemain lama.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *