Aki
Home / Berita Otomotif / Aki Mobil Bisa Terbakar, Kenali Penyebab dan Cara Mencegahnya

Aki Mobil Bisa Terbakar, Kenali Penyebab dan Cara Mencegahnya

Aki Mobil Bisa Terbakar, Kenali Penyebab dan Cara Mencegahnya Aki mobil bekerja sebagai sumber tenaga listrik untuk menyalakan mesin dan membantu sistem kelistrikan kendaraan. Komponen yang ukurannya relatif kecil ini menyimpan energi cukup besar. Apabila terjadi korsleting, pengisian berlebihan, sambungan terminal bermasalah, atau muncul percikan di dekat gas hidrogen, aki dapat mengalami panas berlebihan, terbakar, bahkan meledak.

Risiko tersebut kembali menjadi perhatian setelah sebuah mobil terbakar ketika mengisi bahan bakar di SPBU Kota Bogor pada 9 Agustus 2026. Kepolisian saat itu menyampaikan dugaan awal bahwa kebakaran berasal dari korsleting aki. Api kemudian membakar kendaraan dan dua dispenser SPBU. Penyebab akhir tetap harus mengikuti hasil pemeriksaan petugas karena kebakaran kendaraan dapat berasal dari beberapa bagian.

Akhmad Sandhipatria dari Quality Assurance Department Astra Otoparts pernah menjelaskan bahwa aki menghasilkan energi melalui reaksi kimia dan salah satu hasil proses tersebut adalah gas hidrogen. Gas ini mudah terbakar apabila bertemu sumber penyalaan. Karena itu, kondisi aki, kabel, terminal, sistem pengisian, dan cara melakukan jumper perlu mendapat perhatian.

Pembahasan ini berfokus pada aki 12 volt berbasis timbal asam yang umum digunakan pada mobil bermesin bensin dan diesel, termasuk jenis flooded maupun maintenance free. Baterai traksi tegangan tinggi pada kendaraan listrik mempunyai konstruksi, risiko, dan prosedur penanganan yang berbeda.

Aki Tidak Terbakar Begitu Saja

Kebakaran yang terlihat berasal dari sekitar aki sering disebut sebagai aki terbakar. Padahal, sumber awalnya dapat berupa kabel yang mengalami hubungan pendek, terminal yang memanas, aksesori listrik yang dipasang tidak benar, atau percikan yang menyulut gas di sekitar baterai.

Mobil Kena Abu Vulkanik? Begini Teknik Cuci yang Aman agar Cat Tak Baret

GS Yuasa menjelaskan baterai timbal asam dapat menghasilkan gas hidrogen, terutama selama proses pengisian. Gas tersebut bersifat sangat mudah terbakar dan dapat meledak apabila bertemu percikan atau sumber api. Baterai juga menyimpan energi listrik yang dapat menghasilkan panas dan busur listrik apabila kedua terminal terhubung melalui benda konduktif.

Artinya, terdapat dua bahaya yang dapat muncul bersamaan. Bahaya pertama berasal dari energi listrik aki. Bahaya kedua berasal dari gas yang dihasilkan selama proses elektrokimia.

Kondisi normal tidak berarti aki terus menerus berada pada keadaan berbahaya. Sistem kendaraan dirancang agar gas dapat keluar dengan aman dan tegangan pengisian tetap terkendali. Masalah lebih mungkin muncul ketika terdapat kerusakan, pemasangan tidak benar, perawatan buruk, atau komponen kelistrikan telah mengalami penurunan kondisi.

Korsleting Bisa Menghasilkan Panas Sangat Cepat

Hubungan pendek terjadi ketika arus listrik mendapatkan jalur dengan hambatan sangat rendah menuju kutub lain atau massa kendaraan. Arus yang mengalir kemudian dapat meningkat sangat besar dalam waktu singkat.

Kabel yang isolasinya terkelupas merupakan salah satu penyebab. Bagian tembaga dapat menyentuh bodi kendaraan dan menghasilkan panas pada kabel. Jika terdapat bahan yang mudah terbakar di sekitarnya, api dapat menjalar ke ruang mesin.

Mobil Listrik Murah 2026 Mulai Rp156 Juta, Ini Pilihan dan Harganya

Benda logam juga tidak boleh diletakkan di atas aki. Kunci pas yang secara tidak sengaja menghubungkan terminal positif dan negatif dapat menghasilkan percikan serta panas tinggi. GS Yuasa memperingatkan hubungan pendek terminal oleh alat atau perhiasan logam dapat menyebabkan luka bakar berat.

Sekring sebenarnya berfungsi sebagai perlindungan terhadap arus berlebihan pada banyak rangkaian kendaraan. Persoalan dapat muncul ketika pemilik mengganti sekring dengan kapasitas yang terlalu tinggi atau menambahkan kabel aksesori langsung dari aki tanpa perlindungan yang tepat.

Menurut penulis, modifikasi kelistrikan yang terlihat sederhana sebaiknya tidak dinilai hanya dari apakah lampu atau audio berhasil menyala. Jalur kabel, ukuran penghantar, sambungan massa, dan sekring justru menentukan keamanan dalam penggunaan panjang.

Terminal Longgar Dapat Menjadi Titik Panas

Sambungan terminal aki harus bersih dan terikat dengan baik. Terminal yang longgar menciptakan hambatan listrik pada area kontak. Ketika arus starter yang besar melewati sambungan tersebut, titik kontak dapat menjadi panas.

AAA menyebut koneksi terminal yang kotor atau longgar dapat mengganggu aliran arus dan menjadi penyebab umum masalah aki. Korosi juga perlu dibersihkan karena endapan pada terminal dapat meningkatkan hambatan serta memperburuk kualitas hubungan listrik.

Honda Super-ONE Bikin Penasaran, EV Mungil Rp438 Juta Resmi Masuk Indonesia

Gejalanya tidak selalu berupa api. Pemilik dapat lebih dahulu merasakan mesin sulit dinyalakan, starter terdengar lemah, lampu meredup, atau sistem kelistrikan bekerja tidak stabil.

Korosi biasanya tampak sebagai endapan putih, hijau, atau kebiruan di sekitar terminal. Pemeriksaan visual sederhana ketika mesin dingin dapat membantu menemukan keadaan tersebut sebelum gangguannya menjadi lebih berat.

Jika terminal sangat panas, meleleh, berubah warna, atau kabel terlihat gosong, kendaraan sebaiknya tidak terus digunakan sebelum diperiksa teknisi.

Overcharge Membuat Aki Panas dan Menghasilkan Gas Lebih Banyak

Aki mendapatkan pengisian kembali dari alternator ketika mesin hidup. Tegangan tersebut harus diatur agar tidak terlalu rendah dan tidak berlebihan.

Technical Service Toyota Astra Motor Didi Ahadi pernah menjelaskan bahwa overcharge dapat berkaitan dengan masalah alternator atau sistem pengatur tegangan. Kondisi ini membuat aki menerima tegangan lebih tinggi daripada kebutuhan normalnya.

Pengisian yang terlalu besar dapat meningkatkan suhu serta proses pembentukan gas di dalam baterai. Pada aki basah, air elektrolit juga dapat berkurang lebih cepat.

Interstate Batteries menyebut tegangan sistem ketika mesin hidup umumnya berada pada kisaran 13 sampai 15 volt, sedangkan nilai di atas 16 volt dapat merusak kendaraan. Angka tepat tetap harus dibandingkan dengan spesifikasi produsen mobil karena sistem pengisian modern dapat mengubah tegangan sesuai keadaan baterai dan beban listrik.

Pemeriksaan tegangan sebaiknya dilakukan menggunakan alat yang sesuai oleh teknisi apabila muncul gejala seperti aki sering panas, casing berubah bentuk, lampu terlalu terang, aroma tidak biasa, atau aki baru cepat rusak.

Casing Menggembung Tidak Boleh Diabaikan

Baterai yang terlihat membengkak atau berubah bentuk sebaiknya tidak terus digunakan. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan panas dan tekanan di dalam aki.

Kepala Bengkel Toyota Astra Motor Sunter Iwan Abdurahman pernah menjelaskan bahwa aki menggembung dapat terjadi ketika suhu dan tekanan meningkat. Lubang ventilasi yang tersumbat serta overcharge termasuk kemungkinan penyebabnya.

Interstate Batteries juga memasukkan pembengkakan, uap, dan aroma menyerupai telur busuk sebagai tanda baterai terlalu panas. Jika tanda tersebut muncul, mesin sebaiknya dimatikan ketika aman dan kendaraan diperiksa oleh tenaga profesional.

Jangan menusuk atau membuka paksa casing yang menggembung. Aki mengandung asam sulfat yang korosif dan dapat menyebabkan cedera pada kulit maupun mata.

Gas Hidrogen Menjadi Bahaya Saat Bertemu Percikan

Gas hidrogen merupakan bagian penting dalam memahami mengapa sebuah aki dapat meledak. Gas ini dapat terbentuk selama pengisian dan keluar melalui sistem ventilasi.

GS Yuasa menyatakan hidrogen menjadi eksplosif pada konsentrasi tertentu dan sumber penyalaan yang kecil dapat memicunya. OSHA juga meminta area pengisian baterai memiliki ventilasi serta bebas dari rokok, api terbuka, dan percikan.

Ruang mesin kendaraan memang mempunyai sirkulasi udara ketika mobil bergerak. Namun, risiko dapat meningkat apabila ventilasi baterai tersumbat, proses pengisian tidak normal, atau kendaraan sedang berada di lokasi tertutup.

Karena itu, merokok ketika memeriksa aki merupakan kebiasaan yang harus dihindari. Pemilik juga tidak dianjurkan membuat percikan secara sengaja untuk memeriksa apakah aki masih mempunyai tenaga.

Lampu kerja, charger, dan alat yang digunakan di sekitar baterai harus berada dalam keadaan baik. Kabel yang rusak atau penjepit charger yang longgar dapat menjadi sumber percikan.

Kesalahan Jumper Bisa Memicu Ledakan

Jumper aki sering dianggap pekerjaan sederhana karena hanya melibatkan dua kabel. Kesalahan pemasangan sebenarnya dapat menimbulkan arus besar, percikan, kerusakan elektronik, sampai ledakan baterai.

GS Yuasa menegaskan jumper yang dilakukan dengan tidak benar dapat menyebabkan ledakan, kebakaran, luka bakar, dan kerusakan pada sistem kelistrikan kendaraan. Produsen menyarankan prosedurnya selalu mengikuti buku manual mobil.

Salah satu prinsip keselamatan adalah membuat sambungan terakhir kabel negatif pada titik massa kendaraan yang direkomendasikan dan berada jauh dari aki kendaraan yang membutuhkan bantuan. Cara tersebut membantu menjauhkan percikan dari lokasi yang mungkin memiliki gas hidrogen. OSHA memberikan panduan serupa untuk sambungan baterai jumper.

Mobil modern dapat mempunyai titik jumper khusus karena aki ditempatkan di bagasi atau bagian kendaraan lain. Karena itu, jangan langsung menganggap terminal aki selalu menjadi titik penyambungan yang benar.

Polaritas juga tidak boleh terbalik. Hubungan positif ke negatif dapat merusak komponen elektronik dan menghasilkan percikan besar.

Modifikasi Audio dan Lampu Harus Memakai Jalur yang Benar

Aksesori menjadi bagian lain yang perlu diperhatikan. Sistem audio bertenaga besar, lampu tambahan, winch, inverter, dashcam, serta perangkat elektronik lain dapat meningkatkan kebutuhan arus.

Penambahan aksesori bukan masalah apabila instalasinya dihitung dan dipasang dengan benar. Kabel harus mempunyai ukuran sesuai beban, dilindungi sekring, dijauhkan dari bagian panas serta bergerak, dan mempunyai sambungan massa yang baik.

Masalah terjadi ketika kabel ditarik langsung dari terminal aki tanpa sekring di dekat sumber tenaga. Jika isolasinya terkelupas dan kabel menyentuh bodi, arus sangat besar dapat mengalir sebelum ada perangkat yang memutus rangkaian.

Sekring juga tidak boleh diganti dengan kawat atau nilai ampere jauh lebih besar hanya karena sering putus. Sekring yang terus putus justru menunjukkan adanya masalah pada rangkaian yang perlu ditemukan.

Bengkel kelistrikan yang kompeten sebaiknya melakukan pemasangan aksesori dengan memperhitungkan kemampuan alternator dan baterai, bukan sekadar memastikan alat dapat menyala.

Panas Ruang Mesin Mempercepat Penurunan Kondisi Aki

Temperatur tinggi merupakan musuh baterai. Panas mempercepat reaksi kimia dan kehilangan cairan sehingga umur baterai dapat menjadi lebih pendek.

AAA menjelaskan suhu tinggi dapat mempercepat penurunan kondisi baterai. Pemeriksaan terminal, tegangan, kondisi casing, dan dudukan aki dianjurkan terutama pada kendaraan yang sering beroperasi di lingkungan panas.

Dudukan aki juga harus kuat. Getaran terus menerus dapat merusak bagian internal dan sambungan baterai. AAA menyebut panas dan getaran merupakan dua faktor penting yang mempercepat kerusakan aki.

Pemilik tidak perlu membuat pelindung tambahan yang justru menutup aliran udara. Apabila kendaraan sejak pabrik mempunyai insulator atau kotak baterai, gunakan komponen sesuai rancangan produsen.

Aki yang telah berusia beberapa tahun juga sebaiknya diuji secara berkala. Banyak baterai otomotif berada pada kisaran penggunaan tiga sampai lima tahun, meskipun umur sebenarnya sangat dipengaruhi cuaca, kendaraan, pola perjalanan, dan sistem pengisian.

Ventilasi Aki Jangan Sampai Tersumbat

Aki mempunyai jalur untuk mengeluarkan gas yang terbentuk selama proses pengisian. Lubang tersebut tidak boleh tertutup kotoran atau pemasangan komponen yang tidak sesuai.

GS Yuasa menjelaskan ventilasi memungkinkan gas hasil pengisian keluar dengan aman dan membantu mengurangi tekanan di dalam baterai.

Pada beberapa kendaraan yang menempatkan aki di bagasi atau ruang tertutup, terdapat selang ventilasi khusus. Ketika mengganti aki, teknisi harus memastikan selang dipasang pada lubang yang benar.

Menggunakan tipe baterai yang tidak sesuai dapat membuat sistem ventilasinya tidak cocok dengan kendaraan. Inilah salah satu alasan pemilik sebaiknya mengikuti ukuran, teknologi, kapasitas, dan spesifikasi baterai yang direkomendasikan produsen mobil.

Aki Basah Jangan Dibiarkan Kekurangan Elektrolit

Pada aki yang masih menggunakan sistem pengisian air secara berkala, level elektrolit perlu diperiksa sesuai petunjuk produsennya. Kekurangan cairan dapat membuat pelat tidak terendam dengan baik dan meningkatkan suhu.

Pengisian tidak boleh dilakukan menggunakan cairan sembarangan. Pedoman AAA menyarankan air suling ketika penambahan air memang dibutuhkan, karena air keran dapat membawa mineral yang memperpendek usia baterai.

Aki maintenance free tidak dirancang untuk dibuka dan diisi seperti aki konvensional. Pemilik sebaiknya tidak mencungkil penutup hanya karena melihat video perbaikan di internet.

Jika aki maintenance free berulang kali kekurangan daya, masalah sebaiknya dicari pada kondisi baterai dan sistem pengisian, bukan dengan mencoba menambahkan cairan tanpa prosedur produsen.

Bau Telur Busuk Bisa Menjadi Peringatan

Aroma menyengat menyerupai telur busuk di sekitar aki tidak boleh dianggap normal. Bau tersebut dapat muncul ketika baterai mengalami keadaan pengisian atau panas yang tidak semestinya.

Jika disertai casing panas, pembengkakan, suara mendesis, atau uap, jangan mendekatkan wajah ke baterai. Hindari pula menyalakan atau mematikan perangkat listrik berulang kali di dekatnya.

Kendaraan sebaiknya dihentikan di lokasi aman, mesin dimatikan jika dapat dilakukan tanpa risiko tambahan, kemudian bantuan bengkel atau layanan darurat dipanggil.

Apabila api sudah muncul di ruang mesin, keselamatan penumpang menjadi prioritas. Semua orang perlu menjauh dari kendaraan dan menghubungi petugas pemadam. Membuka kap mesin sepenuhnya saat api telah membesar dapat menambah pasokan udara dan membahayakan orang yang berada di depan kendaraan.

Menurut penulis, keputusan terbaik ketika aki sudah mengeluarkan panas, uap, atau api bukan mencoba menyelamatkan komponen. Jarak aman dan bantuan petugas jauh lebih penting daripada mempertahankan kendaraan.

Pemeriksaan Rutin Bisa Menemukan Masalah Lebih Awal

Pencegahan dimulai dari pemeriksaan sederhana setiap kali kendaraan menjalani servis. Teknisi dapat mengecek kondisi fisik aki, kekencangan terminal, korosi, kabel, dudukan, kemampuan starter, serta kinerja alternator.

Sistem pengisian sebaiknya ikut diuji ketika aki berulang kali tekor atau harus diganti terlalu cepat. AAA menyebut alternator yang bermasalah sebagai salah satu penyebab umum kegagalan baterai.

Pemilik juga perlu memperhatikan perubahan perilaku kendaraan. Starter yang semakin lambat, lampu kabin meredup ketika mesin dinyalakan, indikator baterai menyala, atau perangkat elektronik sering melakukan reset dapat menunjukkan sistem kelistrikan memerlukan pemeriksaan.

Terminal yang penuh korosi, kabel retak, aki tidak terikat kuat, serta casing berubah bentuk merupakan tanda yang dapat terlihat tanpa alat khusus.

Kebiasaan mengganti aki berdasarkan spesifikasi kendaraan turut mengurangi risiko. Kapasitas yang terlalu kecil dapat bekerja lebih berat, sedangkan tipe yang tidak sesuai dengan sistem start stop atau manajemen energi modern dapat mengalami umur lebih pendek.

Aki mobil memang jarang tiba tiba terbakar dalam keadaan sehat dan terpasang dengan benar. Risiko meningkat ketika terdapat kombinasi panas, hubungan pendek, pengisian berlebihan, gas hidrogen, ventilasi yang tidak bekerja, serta sumber percikan. Pemeriksaan sistem kelistrikan secara menyeluruh jauh lebih berguna daripada hanya mengganti aki setiap kali kendaraan sulit dinyalakan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *